Tuesday, December 10, 2019

Opini: Misoginis di Sekitarku



Foto Suara.com

“Makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah.”

SAYA melirik jam ditangan kiri saya yang menunjukan pukul 07.15, pagi ini adalah jadwal kuliah yang membahas tentang gender, menurut saya itu adalah hal baru karena saya belum pernah mendengarnya. “Pasangan suami istri, perempuan mendapatkan bagian kerja lebih banyak daripada pria.” Kata dosen saya. Hal pertama yang terbayang dikepalaku adalah ibu, saya mengingat saat ibu bangun subuh, mulai mempersiapkan segala kebutuhan ayah dan anak-anaknya. Setelah itu, ibu akan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga, hingga menjelang sore mulai memasak untuk kami. Jika diingat, ibu adalah anggota keluarga pertama yang bangun dan terakhir yang akan tidur.
Setelah kelas berakhir, saya langsung mencari jurnal di internet tentang kesetaraan gender. “di Indonesia, di lingkungan pemerintahan maupun swasta, perempuan yang mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum sebanding dengan laki-laki. Meskipun mempunyai menteri wanita, duta besar wanita, jendral wanita bahkan pernah presiden wanita, namun itu masih kelihatan perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan laki-laki yang menduduki jabatan tersebut.” (Hermawati, 2007)
Saya merasa tertarik, yang pada akhirnya saya di pertemukan dengan istilah Misoginis, yang saya simpulkan sebagai perbuatan ketidaksukaan terhadap kaum wanita. Mari saya ceritakan tentang misoginis yang pernah saya temui di kehidupan saya.
Suatu hari tepatnya hari minggu, kebetulan saya sedang libur kuliah menjelang pergantian semester. Hari itu di desa sedang ada kegiatan gotong royong (kerja bakti) di masjid. Sembari bersiap-siap, terdengar suara toa dari masjid, “diharapkan bagi ibu-ibu cewek-cewek agar sekiranya bisa lekas datang untuk membersihkan halaman masjid, terima kasih," seketika saya mengernyit bingung dan bertanya-tanya, “apakah hanya para wanita yang bersih-bersih di masjid?”
Lengkap dengan cangkul yang saya bawa, saya berjalan menuju masjid. Ketika sampai saya melihat halaman masjid yang penuh dengan rumput liar. Saya menuju ketempat yang ditumbuhi rumput liar dan mulai membersihkannya bersama dengan beberapa pemuda lainnya.
Saat sedang mencangkul saya dipanggil, “eh! Yuda sini angkat sampah saja, karungnya di sana tugas laki-laki angkat sampah kan itu lebih berat kasihan kalau perempuan angkat," kata imam masjid yang sedang asyik minum air dingin. Saya lalu berlari mengambil karung, lantas saya melihat di mana tumpukan rumput yang akan dibuang. Sambil melirik para petinggi masjid yang disebut imam, entah jin mana yang merasuki diri mereka yang memilih bersantai disaat warga lain bekerja.
Para wanita bekerja layaknya di rumah sendiri, cuaca panas yang membakar kulit tidak membuat mereka mengeluh, dengan sigap saya mulai memasukkan tumpukan sampah yang telah dikumpul oleh mereka, “Ibu kalau capek istrahat dulu, ini panas,” kata saya kepada wanita paruh baya disamping saya.
“Terus siapa yang mau kasih bersih?”
“Kan ada cowok-cowoknya Bu.”
“Sudah ini tugas perempuan,” balas si ibu kembali melanjutkan pekerjaan.
Sembari mengangkut sampah, saya mulai berpikir apa yang membuat perempuan memiliki pikiran bahwa itu adalah tugas mereka? Bahkan itu adalah pekerjaan yang lebih berat ketimbang duduk-duduk menikmati air dingin di cuaca yang panas ini. Entahlah, aku hanya merasa ironis.
MEMANG mengangkut sampah sekarung penuh tentu-lah sangat berat. Tapi bukan berarti perempuan tidak bisa, kan? Aku yakin bisa. Konstruksi sosial dari masyarakat yang membenarkan bahwa pekerjaan “berat” itu tugas khusus pria. Lantas ada sebuah konstruksi sosial yang berbeda didaerah lain. Bali misalnya, perempuan bahkan melakukan pekerjaan yang di anggap “pekerjaan pria”, seperti pekerjaan dikantor, juga ada Pajegan,rangkaian buah-buahan dan bunga sepanjang kurang lebih 120 centimeter. Tahun 2018 pernah ada ritual dengan menggunakan pajegan sepanjang tiga meter dengan berat sekitar 30 kilogram. Membayangkan saja entah kenapa aku ngeri. Tentu saja berat!
Seringkali dapat dilihat perempuan Bali mengambil pekerjaan yang disebut untuk pria karna tergolong dalam pekerjaan yang “kasar”, seperti bekerja sebagai tukang susun di Pasar Badung yang memikul beban yang berat di atas kepala.
Hey, saya teringat menjelang lebaran, di desa saya warga berlomba-lomba mengecat rumah. Jika di lihat, hampir semua pria yang melakukannya, perempuan tentu saja di dapur menyiapkan 4-5 toples kue, yang saya yakin hari kedua lebaran sudah tandas jika tidak dikunci dilemari. Pastilah ibu yang melakukan itu.
Menjelang malam saya memberanikan diri bertanya kepada ibu saya, dalam percakapan singkat itu aku mencoba bertanya seputar perempuan.
“Ibu, menurut ibu bagaimana perempuan yang memiliki pekerjaan yang lebih tinggi posisinya dari pada pria?”
“Pria itu pemimpin toh nak, malu lah pria kalo ada perempuan begitu.”
“Malu gimana Bu? Kan bagus punya penghasilan.”
“Ya bagus, tapi nanti yang ada pria malu buat melamar karena perempuan posisi kerjanya lebih tinggi dan harga diri pria bakal ciut,
“makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah,” kata ibu sambil asyik minum teh hangat.
Dari mana datangnya pemikiran seperti itu? Pemikiran yang dimiliki oleh hampir setiap perempuan yang ada di desa, apa budaya memengaruhi pola pikir masyarakat tentang arti perempuan? Pernah saya mengikuti upacara kebudayaan karena hasil panen yang melimpah di desa saya, dalam upacara tersebut para pria duduk sembari berzikir, sedangkan para wanita dengan telaten memasak dan membawa sesaji yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuh mereka. Jika pria yang katanya mempunyai tenaga Bukankah tugas besar seperti ini dilakukan oleh para pria? Yang tenaganya lebih kuat?. 
Saat masa kecil, anak lelaki dibiasakan untuk bekerja berat seperti membajak sawah ditemani teriknya matahari, dan anak wanita berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kebiasaan ini terbawa hingga mereka dewasa dan membangun rumah tangga.
 Seorang istri misalnya, karena terbiasa dengan pekerjaan rumah, ketika menikah ia  akan bangun saat subuh dan mulai memasak, membersihkan rumah, dan mempersiapkan pakaian yang akan dipakai  anak dan suaminya untuk ke sekolah dan ke tempat kerja. Sedangkan seorang suami akan bangun dan menikmati hasil pekerjaan istrinya.
Pada suatu malam, saya ingat itu terjadi pada malam minggu, saya bersama beberapa kawan sedang kumpul di sebuah kedai kopi. Saat sedang asik bernostalgia tentang masa SMA. Tiba-tiba teman perempuan kami izin pamit dengan alasan sudah larut malam, dengan refleks saya mengangkat tangan kiri dan melihat jam tangan saya, “pukul 9.20,” pikirku.
“Loh, baru jam sembilan ini kok sudah pulang?” Tanya saya.
“Iya kan anak cewek,” jawabnya memelas, “beda sama kalian cowok, bisa jaga diri, anak cewek tidak bisa di luar malam-malam nanti dikira cewek nakal,” lanjutnya sambil berdiri mengambil tas, bersiap untuk pulang.
Saya pernah menghadiri sebuah diskusi tentang misoginis, dalam diskusi tersebut saya menemukan bahwa misoginis terjadi tanpa kita sadari. Lingkungan masyarakat ada pembenaran bahwa seorang lelaki harus menjadi pemimpin untuk rumah tangga, sedangkan perempuan mempunyai tugas untuk memasak, mencuci, serta mengurus anak dan suami. Perempuan juga mempunyai beberapa batasan-batasan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang lahir di masyarakat secara tidak langsung mengkerdilkan status perempuan dimasyarakat, perempuan selalu menjadi subordinasi dari kepatriarkian lelaki.
Kita paham bahwa secara biologis, perempuan memiliki tiga hal yang hanya bisa dilakukan oleh mereka, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya pekerjaan lelaki adalah pekerjaan-pekerjaan umum yang bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki
Konstruksi sosial yang dibangun di masyarakat secara tidak langsung melegitimasi perbuatan misoginis, seperti masyarakat membenarkan adanya hierarki, terkadang pelaku misogini tidak mengetahui bahwa mereka sedang melakukan misoginis. Herannya perempuan juga terjebak dalam konstruksi sosial ini, dan melakukan misoginis kepada dirinya sendiri dan perempuan lain.





No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

5 Fakta Kamen Rider Black. Si Ksatria Baja Hitam

Dunia perfilman selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Box Office atau bioskop, sampai saat ini sudah banyak film yang mengudara....