Showing posts with label sains. Show all posts
Showing posts with label sains. Show all posts

Saturday, February 29, 2020

Review Film: Men Behind The Sun (1988) Projek Senjata Biologis Jepang


 Ishii Shiro


Men behind the sun adalah sebuah film yang mengisahkan bagaimana jepang membuat senjata biologi pada saat Perang Dunia II, projek ini dipimpin oleh Ishii Shiro, pusat kantornya berada di sekitar kota Harbin dan memiliki cabang di Manchuria. Organisasi ini merupakan laboratorium besar, terdiri dari 150 gedung dan 5 perkemahan setelit dengan sekitar 3.000 ilmuwan yang bekerja di dalamnya.

Unit 731 merupakan unit tentara jepang yang ditempatkan di Cina dan berfokus untuk mengembangkan senjata biologis yang tentunya diharapkan dapat memberikan kemenangan Jepang dalam medan perang.  Selain para ilmuwan, di laboratorium tersebut juga memiliki banyak tahanan yang berasal dari Cina dan Rusia yang merupakan musuh jepang saat itu. Eksperimen senjata biologis dilakukan pada tahanan tersebut.

Kesan disturbing dalam film ini sangat banyak, tentu saja kita berbicara mengenai kekerasan dan gore dalam film ini. Saat awal film berlangsung terlihat seperti film perang biasa, namun beberapa menit setelahnya ada adegan di mana bayi yang baru berumur beberapa bulan di kubur hidup-hidup di tumpukan salju. Tentu saja adegan mengganggu itu dilakukan oleh ilmuwan Unit 731. Adapun adegan mengganggu lainnya saat kedua tangan seorang wanita dimasukan ke dalam air panas, dan salah satu ilmuwan tersebut menarik kulit tangan wanita itu dan kita dapat melihat daging yang seperti dicincang hingga tersisa tulang saja.

        Dilansir dari Unit731.org "According to reports never officially admitted by the Japanese authorities, the unit used thousand of Chinese and other Asian civilians and wartime prisoners as human guinea pigs to breed and develop killer diseases".

       Berdasarkan laporan tidak resmi dari pihak berwenang jepang, unit ini menggunakan ribuan orang dari Cina dan warga sipil sebagai tawanan pada masa perang sebagai percobaan untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah penyakit mematikan.

       Selama 40 tahun, aktivitas mengerikan oleh Unit 731 mengingatkan kita dari salah satu rahasia terkeji selama Perang Dunia II. Hingga pada tahun 1984 Jepang mengakuinya, yang dulunya sempat mereka sangkal. Eksperimen keji terhadap manusia diadakan oleh unit ini untuk menciptakan sebuah kuman mematikan, sudah bisa menebak kepada siapa kuman itu diuji? Tentu saja pada tawanan langsung.


victim

Pembedahan Hidup-Hidup
Kesaksian dari salah satu asisten tim medis memberikan bocoran tentang eksperimen yang dilakukan, asisten tim medis ini tidak menyebutkan namanya, dia hanya meggambarkan peristiwa keji itu pada tahun 1995 wawancara New York Times saat mereka (ilmuwan) melakukan pembedahan hidup-hidup kepada tahanan.

“I fellow knew that it was over for him, and so he didn’t struggle when they led him into the room and tied him down. But when I picked up the scalpel, that’s when he began screaming. I cut him open from the chest to the stomach, and he screamed terribly, and his face was all twisted in agony. He made this unimaginable sound, he was screaming so horribly. But then finally he stopped. This was all in a day’s work for the surgeons, but it really left an impression on me because it was my first time.”
Aku tahu itu adalah akhir dari lelaki itu, dan dia tidak melawan ketika mereka menuju ke kamar dan mengikat dia kemudian dibaringkan. Tapi ketika aku mengambil pisau bedah, mulailah dia berteriak.. aku memotong saluran tenggorokan yang menghubungkan dada ke perutnya, and teriakannya menjadi sangat buruk, and wajahnya seakan menggambarkan kesakitan. Dia membuat suara yang tak terbayangkan, suara teriakannya sangat mengerikan. Tapi, beberapa saat kemudian akhirnya berhenti. Sepanjang hari bekerja untuk membedah, tapi aku meninggalkan itu dan membawa dampak buruk bagiku karena itu yang pertama bagiku (membedah hidup-hidup)
Tetapi, unit 731 bukan hanya dikenal dengan nama buruk karena melakukan pembedahan hidup-hidup. Beberapa tawanan dikirim ke unit ini berasal dari luar yang kemudian diikat dan di pancung. Selanjutnya para tim medis akan melakukan tes senjata biologi kuat mereka dan penciptakan wabah/penyakit.

Pada akhirnya 3.000 orang, bukan hanya dari Cina tetapi juga Rusia, Mongolia, dan Korea, mati karena eksperimen dari Unit 731 yang berlangsung sejak 1939-1945. Tidak ada tawanan yang berhasil keluar hidup-hidup.

Kumpulan Mayat

Selama perang terjadi, tentara kerajaan jepang menggunakan senjata biologi berkembang dan menghasilkan oleh Unit 731. Namun, diperkirakan Unit ini tidak hanya membunuh 3.000 orang melainkan sebanyak kurang lebih 300.000 orang.          

Pada 1984, seorang lulusan Keio Medical University in Tokyo menemukan rekaman dari eksperimen manusia di sebuah toko buku. Pada suatu halaman digambarkan efek dosis besar dari vaksin tetanus (kerusakan sistem saraf oleh bakteri). Di situ ada meja yang menggambarkan lama waktu yang dibutuhkan sampai tawanan itu mati dan juga terekam bagaimana tubuh mereka mengalami kejang yang hebat sampai akhirnya mati.                    



Wednesday, January 15, 2020

Review Film: Lucy (2014). Manusia hanya menggunakan 10% otaknya?


       

Bagi kalian yang sudah nonton film ini, apa kalian percaya dengan hipotesis dari Profesor Samuel Norman (Morgan Freeman) tentang manusia hanya memakai 10% otaknya. Jika benar, saya dan kalian termasuk orang yang sempat percaya hahaha. Film Fiksi Ilmiah ini cukup menjadi sorotan penggemar film Sci-Fi karena hipotesis dari Profesor Samuel ini.
Film dari sutradarai oleh Luc Besson ini terbilang sukses, Lucy menjadi film Perancis yang paling sukses diluar Perancis selama 20 tahun terakhir dan menjadi film pertama yang sebagian difilmkan menggunakan kamera IMAX.
Lucy (Scarlett Johansson) menjadi super pintar, bias belajar satu hal yang baru dia temui dengan sangat cepat dan mudah. Seperti dia bisa belajar dengan cepat bahasa baru, bela diri, sampai punya kekuatan telekinesis.
Keseluruhan dari plot film ini berdasarkan bahwa kita sepanjang sejarah umat manusia hanya memakai 10% dari total kapasitas otak kita. Mungkin sebagian dari kita terbuai dan berangan-angan kemampuan apa saja yang bisa kalian dapatkan jika berhasil memakai 100% kapasitas otak. So yeah, god: that’s totally nonsense
Sampai saat ini gak ada penelitian yang menunjukan hal itu, mungkin sutradara film ini terinspirasi dari misinteprestasi temuan sains yang kurang lengkap kurang lebih serratus tahun yang lalu. Jadi pada awal abad 20, para peneliti pada saat itu sedang mempelajari otak manusia penderita sakit stroke dan bintang, mereka menemukan bahwa bagian otak tertentu memiliki aktivasi yang berbeda. Misalnya, saat mereka menyetrum bagian otak kanan maka tangan kanan akan merespon dan begitupun sebaliknya. Mereka mencoba metode ini untuk memetakan fungsi-fungsi dari setiap bagian otak.
Hasilnya? Dari metode tersebut ternyata hanya 10% bagian otak yang dapat merespon ketika distimulasi aliran listrik, dan tersisa 90% bagian otak yang tidak merespon, artinya tidak ada anggota tubuh yang merespon sedikitpun. Pada saat itu para saintis menyebut 90% area tersebut dengan nama Silent Cortex karena fungsinya belum diketahui sampai dengan Sekaran tetapi bukan bekan berarti tidak berfungsi.
Zaman sekarang, untuk memahami fungsi otak sendiri sudah ada alatnya, seperti MRI, CT Scan, PET Scan dan EEG. Hasilnya sudah bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer, dengan alat-alat tersebut kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak.
Dr. Barry Gordon, seorang professor neurologi di School of medicine adalah salah satu ilmuan yang tidak setuju akan hal ini, dia menyatakan bahwa manusia benar-benar menggunakan setiap bagian otaknya secara aktif setiap waktu. Pada beberapa kesempatan, bagian otak tertentu tidak akan bekerja untuk menggerakan tubuh seperti metode yang dilakukan para saintis dulu. 90% bagian otak yang diberi nama Silent Cortex memiliki kemampuan kognitif (berpikir, menghitung, berbahasa).
Dalam film ini juga sedikit menyentil tentang asal-usul manusia adalah kera. Hmm.. ini teori Darwin. But, guys this just entertaint. Kera dalam film ini adalah Australopithecus afarensis, yang mewakili penghubung yang hilang antara kera dan manusia. Yash, teori Darwin.
Selaku sutradara, Luc Besson sebenarnya tahu mengenai asumsi ilmiah ini salah, seperti manusia menggunakan 10% kapasitas otaknya, Luc menyatakan bahwa asumsi semacam itu menjadi awalan yang baik untuk sebuah film fiksi ilmiah.



5 Fakta Kamen Rider Black. Si Ksatria Baja Hitam

Dunia perfilman selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Box Office atau bioskop, sampai saat ini sudah banyak film yang mengudara....