Wednesday, January 15, 2020

Review Film: Lucy (2014). Manusia hanya menggunakan 10% otaknya?


       

Bagi kalian yang sudah nonton film ini, apa kalian percaya dengan hipotesis dari Profesor Samuel Norman (Morgan Freeman) tentang manusia hanya memakai 10% otaknya. Jika benar, saya dan kalian termasuk orang yang sempat percaya hahaha. Film Fiksi Ilmiah ini cukup menjadi sorotan penggemar film Sci-Fi karena hipotesis dari Profesor Samuel ini.
Film dari sutradarai oleh Luc Besson ini terbilang sukses, Lucy menjadi film Perancis yang paling sukses diluar Perancis selama 20 tahun terakhir dan menjadi film pertama yang sebagian difilmkan menggunakan kamera IMAX.
Lucy (Scarlett Johansson) menjadi super pintar, bias belajar satu hal yang baru dia temui dengan sangat cepat dan mudah. Seperti dia bisa belajar dengan cepat bahasa baru, bela diri, sampai punya kekuatan telekinesis.
Keseluruhan dari plot film ini berdasarkan bahwa kita sepanjang sejarah umat manusia hanya memakai 10% dari total kapasitas otak kita. Mungkin sebagian dari kita terbuai dan berangan-angan kemampuan apa saja yang bisa kalian dapatkan jika berhasil memakai 100% kapasitas otak. So yeah, god: that’s totally nonsense
Sampai saat ini gak ada penelitian yang menunjukan hal itu, mungkin sutradara film ini terinspirasi dari misinteprestasi temuan sains yang kurang lengkap kurang lebih serratus tahun yang lalu. Jadi pada awal abad 20, para peneliti pada saat itu sedang mempelajari otak manusia penderita sakit stroke dan bintang, mereka menemukan bahwa bagian otak tertentu memiliki aktivasi yang berbeda. Misalnya, saat mereka menyetrum bagian otak kanan maka tangan kanan akan merespon dan begitupun sebaliknya. Mereka mencoba metode ini untuk memetakan fungsi-fungsi dari setiap bagian otak.
Hasilnya? Dari metode tersebut ternyata hanya 10% bagian otak yang dapat merespon ketika distimulasi aliran listrik, dan tersisa 90% bagian otak yang tidak merespon, artinya tidak ada anggota tubuh yang merespon sedikitpun. Pada saat itu para saintis menyebut 90% area tersebut dengan nama Silent Cortex karena fungsinya belum diketahui sampai dengan Sekaran tetapi bukan bekan berarti tidak berfungsi.
Zaman sekarang, untuk memahami fungsi otak sendiri sudah ada alatnya, seperti MRI, CT Scan, PET Scan dan EEG. Hasilnya sudah bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer, dengan alat-alat tersebut kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak.
Dr. Barry Gordon, seorang professor neurologi di School of medicine adalah salah satu ilmuan yang tidak setuju akan hal ini, dia menyatakan bahwa manusia benar-benar menggunakan setiap bagian otaknya secara aktif setiap waktu. Pada beberapa kesempatan, bagian otak tertentu tidak akan bekerja untuk menggerakan tubuh seperti metode yang dilakukan para saintis dulu. 90% bagian otak yang diberi nama Silent Cortex memiliki kemampuan kognitif (berpikir, menghitung, berbahasa).
Dalam film ini juga sedikit menyentil tentang asal-usul manusia adalah kera. Hmm.. ini teori Darwin. But, guys this just entertaint. Kera dalam film ini adalah Australopithecus afarensis, yang mewakili penghubung yang hilang antara kera dan manusia. Yash, teori Darwin.
Selaku sutradara, Luc Besson sebenarnya tahu mengenai asumsi ilmiah ini salah, seperti manusia menggunakan 10% kapasitas otaknya, Luc menyatakan bahwa asumsi semacam itu menjadi awalan yang baik untuk sebuah film fiksi ilmiah.



Monday, January 6, 2020

Review Film: Ready or Not. Tradisi keluarga Gila




Film ini adalah film horror misteri thriller Amerika Serikat yang disutradarai oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett. Film ini tergolong ringan untuk film bertema horror misteri thriller. Sebuah keluarga bermarga Le Domas memiliki tradisi aneh yang dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi keluarga mereka utnuk mempertahankan kekayaan yang mereka miliki. Sampai suatu ketika tradisi ini dilakukan kembali saat pernikahan anggota keluarga mereka.
Grace (Samara Weaving) adalah seorang gadis yang memiliki kekasih bernama Alex Le Domas (Mark O’Brien). Alex diketahui berasal dari keluarga berada, mereka akan melakukan pernikahan untuk melanggengkan hubungan yang telah lama mereka jalani. Grace merasa bahagia bisa menikah di rumah keluarga besar Alex, pernikahan itu dihadiri oleh seluruh keluarga Alex dan kerabat dekat mereka.
Malam tradisi dimulai oleh keluarga Le Domas. Tradisi ini adalah permainan kecil namun memiliki arti yang besar bagi keluarga ini. Saat mencabut salah satu kartu, Grace mendapatkan kartu “Hide and Seek” atau petak umpet. Namun, ini bukan petak umpet biasa, justru ini membuat Alex dan ibunya Becky Le Domas khawatir.
Grace akan menghadapi peristiwa berdarah dalam hidupnya, dia harus bersembunyi dan jangan sampai ketahuan oleh siapa pun, masing-masing keluarga memegang senjata yang siap kapan saja membunuh Grace. Tentu saja Grace yang dihadapkan situasi seperti ini langsung shock berat dengan malam pertama yang tidak seindah yang diharapkan, justru hal gila inilah yang terjadi.
Samara Weaving menurutku berhasil mentransformasi dirinya menjadi wanita yang nakal dalam film ini, yang kemudian berpikir logis, shock dan kemudian menunjukan kegilaannya sendiri pada keluarga Le Domas.
Menurutku, film ini tampil baik menyajikan sekaligus menggiring penonton pada kesintingan yang mungkin saja tersimpan jauh di salah satu isi otak dan hati kita semua, tentang bagaimana keluarga yang kaya raya mendapatkan semua kekayaan itu. Well, itu hanya konspirasiku saja haha.


5 Fakta Kamen Rider Black. Si Ksatria Baja Hitam

Dunia perfilman selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Box Office atau bioskop, sampai saat ini sudah banyak film yang mengudara....