Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

Wednesday, December 25, 2019

Review Film: Midsommar (2019)




Reviev Film: Midsommar (2019)

Film Midsommar di sutradarai oleh Ari Aster yang juga orang dibalik suksesnya film Hereditary. Film ini berkisahkan tentang seorang wanita yang bernama Dani Ardor (Florence Pugh), yang mengalami trauma yang mempengaruhi mentalnya, ditambahnya hubungan asmara yang memburuk.
Suatu hari, Christian diundang oleh salah satu temannya, Pelle, untuk menikmati liburan musim panas mereka dikampung halamannya, Hälsingland, Swedia. Usulan yang dikatakan Pelle sangat menarik. Karena, ada sebuah perayaan yang dilakukan sekali dalam 90 tahun dan berlangsung Sembilan hari lamanya.
Dani yang tidak mengetahui hal tersebut merasa bahwa dia akan ditinggalkan sendirian, dan mulai bertanya pada Chris. Melalui sedikit perdebatan, akhirnya Dani ikut bersama mereka juga teman-teman Chris.
Melalui perjalanan yang panjang untuk sampai ketempat tujuan mereka, akhirnya sampailah mereka dikampung halaman Pelle, desa Harga. Suasananya ala-ala pedesaan, dengan tone yang cerah serta lagi-lagi transisi yang smooth diberikan oleh Ari Aster namun menurut saya ini creepy, melihat semua orang berpakaian serba putih. Belum lagi tempat peristirahatan mereka dalam satu tempat yang sama dan jika kalian perhatikan dindingnya itu terdapat banyak gambar, semeotika difilm ini banyak banget.
Namun, kehangatan yang mereka rasakan saat disambut oleh warga di desa Harga tidak bertahan lama. Dimulai dengan scene seorang kakek dan nenek yang terjun dari atas tebing sampai meninggal dan disaksikan oleh warga seolah-olah itu hal yang biasa.
Adat dari desa Harga ialah saat umur mencapai 72 tahun, maka kalian harus melakukan ritual jatuh dari tebing. Maksudnya adalah saat kalian makin tua kalian akan dengan mudah terserang penyakit dan membutuhkan orang untuk merawatnya, daripada kalian bersakit-sakit jadi sekalian saja kalian melakukan ritual “bunuh diri” dengan harapan kalian akan memiliki reinkarnasi dimasa yang akan datang.
Mungkin bagi kalian yang masih bingung dengan sesosok perempuan kecil yang memiliki bentuk wajah yang aneh, setelah saya nonton lagi perempuan itu memiliki tugas untuk menulis buku (semacam Al-Kitab desa Harga), kondisi wajah ini didapatkan karena hubungan seks sedarah atau inces. Saya lupa durasi keberapa, yang jelas ada dialog yang seolah-olah mengatakan bahwa sebelumnya memang ada kondisi fisik dari mereka yang seperti itu karena hubungan sedarah dan itu terus dilakukan kalua si gadis ini telah meninggal.
Saya menyimpulkan bahwa hubungan sedarah ini dibenarkan oleh warga di desa Harga untuk meneruskan penulis Al-kitab mereka. Karena kondisi fisik yang berbeda, anak dari hubungan sedarah dianggap suci dan bersih dari dosa dan dipercayakan untuk menulis di Kitab mereka. ‘Lah terus kok anak lain normal?’ hemm coba pikirkan, anak dari hubungan sedarah akan memiliki gen yang tidak seimbang dan berakhir dengan kondisi fisik yang berbeda, lantas dari hubungan seks apakah anak lain terlahir dalam kondisi fisik normal? Ini akan terjawab saat kalian menontonnya dengan seksama.
Beberapa hari kemudian beberapa teman Chris mulai hilang entah kemana (nonton aja biar tahu) yang tersisa hanya Dani yang menjadi putri bulan Mei karena menang dalam salah satu ritual dalam sembilan hari perayaan desa Harga.
Saya kurang tahu film ini tayang di bioskop Indonesia atau tidak, mengingat ada banyak adegan seperti ritual seks, sekte, serta ramuan minuman pemikat cinta. Jika ditayangkan, film ini memiliki banyak bagian untuk disensor oleh Lembaga Film Indonesia.
Banyak yang bertanya-tanya tentang Midsommar sebagai sequel dari Hereditary (lihat gambar dibawah)


 durasi 1:01:15
 Bukankah pasangan yang berjalan itu mirip dengan Dani dan Chris? Saya akui memang itu terlalu mirip, namun saat saya menonton film ini saya belum menemukan dengan pasti hubungan antara Hereditary dan Midsommar. Untuk penutup, menurut saya Ari Aster sukses menghadirkan suasana horor disiang hari.



Tuesday, December 10, 2019

Opini: Misoginis di Sekitarku



Foto Suara.com

“Makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah.”

SAYA melirik jam ditangan kiri saya yang menunjukan pukul 07.15, pagi ini adalah jadwal kuliah yang membahas tentang gender, menurut saya itu adalah hal baru karena saya belum pernah mendengarnya. “Pasangan suami istri, perempuan mendapatkan bagian kerja lebih banyak daripada pria.” Kata dosen saya. Hal pertama yang terbayang dikepalaku adalah ibu, saya mengingat saat ibu bangun subuh, mulai mempersiapkan segala kebutuhan ayah dan anak-anaknya. Setelah itu, ibu akan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga, hingga menjelang sore mulai memasak untuk kami. Jika diingat, ibu adalah anggota keluarga pertama yang bangun dan terakhir yang akan tidur.
Setelah kelas berakhir, saya langsung mencari jurnal di internet tentang kesetaraan gender. “di Indonesia, di lingkungan pemerintahan maupun swasta, perempuan yang mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum sebanding dengan laki-laki. Meskipun mempunyai menteri wanita, duta besar wanita, jendral wanita bahkan pernah presiden wanita, namun itu masih kelihatan perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan laki-laki yang menduduki jabatan tersebut.” (Hermawati, 2007)
Saya merasa tertarik, yang pada akhirnya saya di pertemukan dengan istilah Misoginis, yang saya simpulkan sebagai perbuatan ketidaksukaan terhadap kaum wanita. Mari saya ceritakan tentang misoginis yang pernah saya temui di kehidupan saya.
Suatu hari tepatnya hari minggu, kebetulan saya sedang libur kuliah menjelang pergantian semester. Hari itu di desa sedang ada kegiatan gotong royong (kerja bakti) di masjid. Sembari bersiap-siap, terdengar suara toa dari masjid, “diharapkan bagi ibu-ibu cewek-cewek agar sekiranya bisa lekas datang untuk membersihkan halaman masjid, terima kasih," seketika saya mengernyit bingung dan bertanya-tanya, “apakah hanya para wanita yang bersih-bersih di masjid?”
Lengkap dengan cangkul yang saya bawa, saya berjalan menuju masjid. Ketika sampai saya melihat halaman masjid yang penuh dengan rumput liar. Saya menuju ketempat yang ditumbuhi rumput liar dan mulai membersihkannya bersama dengan beberapa pemuda lainnya.
Saat sedang mencangkul saya dipanggil, “eh! Yuda sini angkat sampah saja, karungnya di sana tugas laki-laki angkat sampah kan itu lebih berat kasihan kalau perempuan angkat," kata imam masjid yang sedang asyik minum air dingin. Saya lalu berlari mengambil karung, lantas saya melihat di mana tumpukan rumput yang akan dibuang. Sambil melirik para petinggi masjid yang disebut imam, entah jin mana yang merasuki diri mereka yang memilih bersantai disaat warga lain bekerja.
Para wanita bekerja layaknya di rumah sendiri, cuaca panas yang membakar kulit tidak membuat mereka mengeluh, dengan sigap saya mulai memasukkan tumpukan sampah yang telah dikumpul oleh mereka, “Ibu kalau capek istrahat dulu, ini panas,” kata saya kepada wanita paruh baya disamping saya.
“Terus siapa yang mau kasih bersih?”
“Kan ada cowok-cowoknya Bu.”
“Sudah ini tugas perempuan,” balas si ibu kembali melanjutkan pekerjaan.
Sembari mengangkut sampah, saya mulai berpikir apa yang membuat perempuan memiliki pikiran bahwa itu adalah tugas mereka? Bahkan itu adalah pekerjaan yang lebih berat ketimbang duduk-duduk menikmati air dingin di cuaca yang panas ini. Entahlah, aku hanya merasa ironis.
MEMANG mengangkut sampah sekarung penuh tentu-lah sangat berat. Tapi bukan berarti perempuan tidak bisa, kan? Aku yakin bisa. Konstruksi sosial dari masyarakat yang membenarkan bahwa pekerjaan “berat” itu tugas khusus pria. Lantas ada sebuah konstruksi sosial yang berbeda didaerah lain. Bali misalnya, perempuan bahkan melakukan pekerjaan yang di anggap “pekerjaan pria”, seperti pekerjaan dikantor, juga ada Pajegan,rangkaian buah-buahan dan bunga sepanjang kurang lebih 120 centimeter. Tahun 2018 pernah ada ritual dengan menggunakan pajegan sepanjang tiga meter dengan berat sekitar 30 kilogram. Membayangkan saja entah kenapa aku ngeri. Tentu saja berat!
Seringkali dapat dilihat perempuan Bali mengambil pekerjaan yang disebut untuk pria karna tergolong dalam pekerjaan yang “kasar”, seperti bekerja sebagai tukang susun di Pasar Badung yang memikul beban yang berat di atas kepala.
Hey, saya teringat menjelang lebaran, di desa saya warga berlomba-lomba mengecat rumah. Jika di lihat, hampir semua pria yang melakukannya, perempuan tentu saja di dapur menyiapkan 4-5 toples kue, yang saya yakin hari kedua lebaran sudah tandas jika tidak dikunci dilemari. Pastilah ibu yang melakukan itu.
Menjelang malam saya memberanikan diri bertanya kepada ibu saya, dalam percakapan singkat itu aku mencoba bertanya seputar perempuan.
“Ibu, menurut ibu bagaimana perempuan yang memiliki pekerjaan yang lebih tinggi posisinya dari pada pria?”
“Pria itu pemimpin toh nak, malu lah pria kalo ada perempuan begitu.”
“Malu gimana Bu? Kan bagus punya penghasilan.”
“Ya bagus, tapi nanti yang ada pria malu buat melamar karena perempuan posisi kerjanya lebih tinggi dan harga diri pria bakal ciut,
“makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah,” kata ibu sambil asyik minum teh hangat.
Dari mana datangnya pemikiran seperti itu? Pemikiran yang dimiliki oleh hampir setiap perempuan yang ada di desa, apa budaya memengaruhi pola pikir masyarakat tentang arti perempuan? Pernah saya mengikuti upacara kebudayaan karena hasil panen yang melimpah di desa saya, dalam upacara tersebut para pria duduk sembari berzikir, sedangkan para wanita dengan telaten memasak dan membawa sesaji yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuh mereka. Jika pria yang katanya mempunyai tenaga Bukankah tugas besar seperti ini dilakukan oleh para pria? Yang tenaganya lebih kuat?. 
Saat masa kecil, anak lelaki dibiasakan untuk bekerja berat seperti membajak sawah ditemani teriknya matahari, dan anak wanita berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kebiasaan ini terbawa hingga mereka dewasa dan membangun rumah tangga.
 Seorang istri misalnya, karena terbiasa dengan pekerjaan rumah, ketika menikah ia  akan bangun saat subuh dan mulai memasak, membersihkan rumah, dan mempersiapkan pakaian yang akan dipakai  anak dan suaminya untuk ke sekolah dan ke tempat kerja. Sedangkan seorang suami akan bangun dan menikmati hasil pekerjaan istrinya.
Pada suatu malam, saya ingat itu terjadi pada malam minggu, saya bersama beberapa kawan sedang kumpul di sebuah kedai kopi. Saat sedang asik bernostalgia tentang masa SMA. Tiba-tiba teman perempuan kami izin pamit dengan alasan sudah larut malam, dengan refleks saya mengangkat tangan kiri dan melihat jam tangan saya, “pukul 9.20,” pikirku.
“Loh, baru jam sembilan ini kok sudah pulang?” Tanya saya.
“Iya kan anak cewek,” jawabnya memelas, “beda sama kalian cowok, bisa jaga diri, anak cewek tidak bisa di luar malam-malam nanti dikira cewek nakal,” lanjutnya sambil berdiri mengambil tas, bersiap untuk pulang.
Saya pernah menghadiri sebuah diskusi tentang misoginis, dalam diskusi tersebut saya menemukan bahwa misoginis terjadi tanpa kita sadari. Lingkungan masyarakat ada pembenaran bahwa seorang lelaki harus menjadi pemimpin untuk rumah tangga, sedangkan perempuan mempunyai tugas untuk memasak, mencuci, serta mengurus anak dan suami. Perempuan juga mempunyai beberapa batasan-batasan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang lahir di masyarakat secara tidak langsung mengkerdilkan status perempuan dimasyarakat, perempuan selalu menjadi subordinasi dari kepatriarkian lelaki.
Kita paham bahwa secara biologis, perempuan memiliki tiga hal yang hanya bisa dilakukan oleh mereka, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya pekerjaan lelaki adalah pekerjaan-pekerjaan umum yang bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki
Konstruksi sosial yang dibangun di masyarakat secara tidak langsung melegitimasi perbuatan misoginis, seperti masyarakat membenarkan adanya hierarki, terkadang pelaku misogini tidak mengetahui bahwa mereka sedang melakukan misoginis. Herannya perempuan juga terjebak dalam konstruksi sosial ini, dan melakukan misoginis kepada dirinya sendiri dan perempuan lain.





5 Fakta Kamen Rider Black. Si Ksatria Baja Hitam

Dunia perfilman selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Box Office atau bioskop, sampai saat ini sudah banyak film yang mengudara....