“Makanya pria itu
harus disekolahkan tinggi-tinggi biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya,
kita perempuan ya di rumah, menunggu pria melamar, mengurus rumah.”
SAYA melirik jam ditangan kiri saya yang menunjukan
pukul 07.15, pagi ini adalah jadwal kuliah yang membahas tentang gender,
menurut saya itu adalah hal baru karena saya belum pernah mendengarnya. “Pasangan
suami istri, perempuan mendapatkan bagian kerja lebih banyak daripada pria.”
Kata dosen saya. Hal pertama yang terbayang dikepalaku adalah ibu, saya
mengingat saat ibu bangun subuh, mulai mempersiapkan segala kebutuhan ayah dan
anak-anaknya. Setelah itu, ibu akan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga,
hingga menjelang sore mulai memasak untuk kami. Jika diingat, ibu adalah
anggota keluarga pertama yang bangun dan terakhir yang akan tidur.
Setelah kelas berakhir, saya langsung mencari jurnal
di internet tentang kesetaraan gender. “di Indonesia, di lingkungan pemerintahan
maupun swasta, perempuan yang mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum
sebanding dengan laki-laki. Meskipun mempunyai menteri wanita, duta besar
wanita, jendral wanita bahkan pernah presiden wanita, namun itu masih kelihatan
perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan laki-laki yang
menduduki jabatan tersebut.”
(Hermawati, 2007)
Saya merasa tertarik, yang pada akhirnya saya di pertemukan
dengan istilah Misoginis, yang saya simpulkan sebagai perbuatan ketidaksukaan
terhadap kaum wanita. Mari saya ceritakan tentang misoginis yang pernah saya
temui di kehidupan saya.
Suatu hari tepatnya hari minggu, kebetulan saya sedang
libur kuliah menjelang pergantian semester. Hari itu di desa sedang ada
kegiatan gotong royong (kerja bakti) di masjid. Sembari bersiap-siap, terdengar
suara toa dari masjid, “diharapkan bagi ibu-ibu cewek-cewek agar sekiranya bisa
lekas datang untuk membersihkan halaman masjid, terima kasih," seketika
saya mengernyit bingung dan bertanya-tanya, “apakah hanya para wanita yang
bersih-bersih di masjid?”
Lengkap dengan cangkul yang saya bawa, saya berjalan
menuju masjid. Ketika sampai saya melihat halaman masjid yang penuh dengan
rumput liar. Saya menuju ketempat yang ditumbuhi rumput liar dan mulai
membersihkannya bersama dengan beberapa pemuda lainnya.
Saat sedang mencangkul saya dipanggil, “eh! Yuda sini
angkat sampah saja, karungnya di sana tugas laki-laki angkat sampah kan itu
lebih berat kasihan kalau perempuan angkat," kata imam masjid yang sedang
asyik minum air dingin. Saya lalu berlari mengambil karung, lantas saya melihat
di mana tumpukan rumput yang akan dibuang. Sambil melirik para petinggi masjid
yang disebut imam, entah jin mana yang merasuki diri mereka yang memilih
bersantai disaat warga lain bekerja.
Para wanita bekerja layaknya di rumah sendiri, cuaca
panas yang membakar kulit tidak membuat mereka mengeluh, dengan sigap saya mulai
memasukkan tumpukan sampah yang telah dikumpul oleh mereka, “Ibu kalau capek
istrahat dulu, ini panas,” kata saya kepada wanita paruh baya disamping saya.
“Terus siapa yang mau kasih bersih?”
“Kan ada cowok-cowoknya Bu.”
“Sudah ini tugas perempuan,” balas si ibu kembali
melanjutkan pekerjaan.
Sembari mengangkut sampah, saya mulai berpikir apa
yang membuat perempuan memiliki pikiran bahwa itu adalah tugas mereka? Bahkan
itu adalah pekerjaan yang lebih berat ketimbang duduk-duduk menikmati air
dingin di cuaca yang panas ini. Entahlah, aku hanya merasa ironis.
MEMANG mengangkut sampah sekarung penuh tentu-lah
sangat berat. Tapi bukan berarti perempuan tidak bisa, kan? Aku yakin bisa.
Konstruksi sosial dari masyarakat yang membenarkan bahwa pekerjaan “berat” itu
tugas khusus pria. Lantas ada sebuah konstruksi sosial yang berbeda didaerah
lain. Bali misalnya, perempuan bahkan melakukan pekerjaan yang di anggap
“pekerjaan pria”, seperti pekerjaan dikantor, juga ada Pajegan,rangkaian buah-buahan dan bunga sepanjang kurang lebih 120 centimeter. Tahun 2018
pernah ada ritual dengan menggunakan pajegan sepanjang tiga meter dengan berat
sekitar 30 kilogram. Membayangkan saja entah kenapa aku ngeri. Tentu saja
berat!
Seringkali dapat dilihat perempuan Bali mengambil
pekerjaan yang disebut untuk pria karna tergolong dalam pekerjaan yang “kasar”,
seperti bekerja sebagai tukang susun di Pasar Badung yang memikul beban yang
berat di atas kepala.
Hey, saya teringat menjelang lebaran, di desa saya
warga berlomba-lomba mengecat rumah. Jika di lihat, hampir semua pria yang melakukannya,
perempuan tentu saja di dapur menyiapkan 4-5 toples kue, yang saya yakin hari
kedua lebaran sudah tandas jika tidak dikunci dilemari. Pastilah ibu yang
melakukan itu.
Menjelang malam saya memberanikan diri bertanya kepada
ibu saya, dalam percakapan singkat itu aku mencoba bertanya seputar perempuan.
“Ibu, menurut ibu bagaimana perempuan yang memiliki
pekerjaan yang lebih tinggi posisinya dari pada pria?”
“Pria itu pemimpin toh
nak, malu lah pria kalo ada perempuan begitu.”
“Malu gimana Bu? Kan bagus punya penghasilan.”
“Ya bagus, tapi nanti yang ada pria malu buat melamar
karena perempuan posisi kerjanya lebih tinggi dan harga diri pria bakal ciut,
“makanya pria itu harus disekolahkan tinggi-tinggi
biar bisa melamar perempuan yang di bawahnya, kita perempuan ya di rumah,
menunggu pria melamar, mengurus rumah,” kata ibu sambil asyik minum teh hangat.
Dari mana datangnya pemikiran seperti itu? Pemikiran yang
dimiliki oleh hampir setiap perempuan yang ada di desa, apa budaya memengaruhi
pola pikir masyarakat tentang arti perempuan? Pernah saya mengikuti upacara
kebudayaan karena hasil panen yang melimpah di desa saya, dalam upacara
tersebut para pria duduk sembari berzikir, sedangkan para wanita dengan telaten
memasak dan membawa sesaji yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuh
mereka. Jika pria yang katanya mempunyai tenaga Bukankah tugas besar seperti
ini dilakukan oleh para pria? Yang tenaganya lebih kuat?.
Saat masa kecil, anak lelaki dibiasakan untuk bekerja
berat seperti membajak sawah ditemani teriknya matahari, dan anak wanita
berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kebiasaan ini terbawa
hingga mereka dewasa dan membangun rumah tangga.
Seorang istri misalnya,
karena terbiasa dengan pekerjaan rumah, ketika menikah ia akan bangun saat subuh dan mulai memasak,
membersihkan rumah, dan mempersiapkan pakaian yang akan dipakai anak dan suaminya untuk ke sekolah dan ke
tempat kerja. Sedangkan seorang suami akan bangun dan menikmati hasil pekerjaan
istrinya.
Pada suatu malam, saya ingat itu terjadi pada malam
minggu, saya bersama beberapa kawan sedang kumpul di sebuah kedai kopi. Saat
sedang asik bernostalgia tentang masa SMA. Tiba-tiba teman perempuan kami izin
pamit dengan alasan sudah larut malam, dengan refleks saya mengangkat tangan
kiri dan melihat jam tangan saya, “pukul 9.20,” pikirku.
“Loh, baru jam sembilan ini kok sudah pulang?” Tanya saya.
“Iya kan anak cewek,” jawabnya memelas, “beda sama
kalian cowok, bisa jaga diri, anak cewek tidak bisa di luar malam-malam nanti
dikira cewek nakal,” lanjutnya sambil berdiri mengambil tas, bersiap untuk
pulang.
Saya pernah menghadiri sebuah diskusi tentang
misoginis, dalam diskusi tersebut saya menemukan bahwa misoginis terjadi tanpa kita
sadari. Lingkungan masyarakat ada pembenaran bahwa seorang lelaki harus menjadi
pemimpin untuk rumah tangga, sedangkan perempuan mempunyai tugas untuk memasak,
mencuci, serta mengurus anak dan suami. Perempuan juga mempunyai beberapa
batasan-batasan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang
lahir di masyarakat secara tidak langsung mengkerdilkan status perempuan
dimasyarakat, perempuan selalu menjadi subordinasi dari kepatriarkian lelaki.
Kita paham bahwa secara biologis, perempuan memiliki
tiga hal yang hanya bisa dilakukan oleh mereka, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui.
Selebihnya pekerjaan lelaki adalah pekerjaan-pekerjaan umum yang bisa dilakukan
oleh perempuan dan laki-laki
Konstruksi sosial yang dibangun di masyarakat secara
tidak langsung melegitimasi perbuatan misoginis, seperti masyarakat membenarkan
adanya hierarki, terkadang pelaku misogini tidak mengetahui bahwa mereka sedang
melakukan misoginis. Herannya perempuan juga terjebak dalam konstruksi sosial
ini, dan melakukan misoginis kepada dirinya sendiri dan perempuan lain.




