Sunday, July 11, 2021

Puisi : Metafora

Tuesday, October 13, 2020

Review Film: Love, Simon

 


Love, Simon

Film ini disutradarai oleh Greg Berlanti yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Simon vs Homo Sapiens Agenda karya Becky Albertalli. Film ini juga termasuk dalam Garapan 20th Century Fox.

Simon Spier (Nick Robinson) akan menceritakan kisah cintanya dengan seseorang dari internet serta bagaimana dia Coming Out tentang orientasi seksualnya, yaitu gay. Simon memiliki empat teman dekat, Leah Burke (Katherine Langford), Abby Suso (Alexandra Shipp) dan Nick Eisner (Jorge Lenderborg). Oh ya! Film ini tidak tayang di bioskop Indonesia, seperti yang kita tahu bahwa negara kita terlalu ketakutan dengan isu LGBT.

Semua bermula saat Leah memberi tahu Simon untuk membuka Creek Secret, website sekolah mereka (seperti facebook khusus murid sekolah). Ada sebuah postingan tentang seseorang yang merasa bimbang karena memiliki orientasi seksual gay, postingan tersebut ditulis oleh Blue (nama samaran). Simon yang merasa bahwa dia tidak sendiri mulai penasaran siapa orang itu.

Simon mulai mengirim pesan ke alamat email Blue. ‘Hey’, kata pertama yang akan membawa Simon ke kisah cinta ala anak SMA. Berlanjut Simon menulis bahwa dia memiliki kehidupan yang sangat normal, memiliki keluarga dan teman yang baik, kecuali satu hal, bahwa dia seorang gay. Sama halnya seperti Blue, Simon menyamarkan namanya menjadi Jacques.

Simon dan Blue akhirnya sering berkirim email, bercerita tentang serunya film Game of Trones, dan bergurau tentang  saat orang lain menahan nafas ketika payudara Dragon Princes terlihat sedangkan dia lebih tertarik melihat John Snow yang rupawan.

Simon lebih sering memperhatikan pria-pria yang ada di sekolahnya, menebak siapakah sesosok Blue, mulai dari teman Party sampai gurunya.

Sepertinya simon terlalu ceroboh untuk meninggalkan komputer perpustakaan dengan keadaan akun Gmail yang tidak logout, yang akhirnya diketahui oleh Martin. Martin tidak akan membongkar rahasia besar itu dengan satu syarat, dia menyuka teman Simon, Abby. Saya pikir kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi 😊

Tidak punya pilihan lain. Simon menyetujui hal itu. Pendekatan yang dilakukan Martin sepertinya sedikit membuat Abby terpukau. Simon tahu ini hal yang sulit, dia tahu Nick sahabatnya sudah lama menyukai Abby, dengan terpaksa dia berbohong bahwa Abby memiliki gebetan. Hal yang akan menambah masalah bagi Simon.

Nampaknya rahasia yang ditutup serapat mungkin tidak akan bisa bertahan, Martin yang sakit hati karena ditolak cintanya, akhirnya membongkar rahasia Simon dengan bukti foto isi email yang diuggah di Creek Secret. Simon mulai membuka diri kepada keluarganya, menjadi bulan-bulanan di sekolah, masalah Abby yang sebenarnya tidak memiliki gebetan juga terbogkar. Namun, Simon percaya bahwa menjadi gay bukan kesalahan, dukungan dari lingkungan seperti keluarga dan sahabat adalah yang terpenting.

Oh ayolah! Jangan lupakan sesosok Blue, Simon tidak menyerah untuk mencari siapa Blue. Lewat tulisannya di Creek Secret, dia menulis tentang muaknya dia menyembunyikan ini semua, dia muak karena tidak bebas menjadi dirinya sendiri, dia merasa sebagai gay dia berhak mendapatkan kisah cinta selayaknya pasangan hetero. Diakhir tulisan, dia membuat pernyataan bahwa akan menunggu kedatangan Blue di Bianglala kota.

 

 

 

Saturday, February 29, 2020

Review Film: Men Behind The Sun (1988) Projek Senjata Biologis Jepang


 Ishii Shiro


Men behind the sun adalah sebuah film yang mengisahkan bagaimana jepang membuat senjata biologi pada saat Perang Dunia II, projek ini dipimpin oleh Ishii Shiro, pusat kantornya berada di sekitar kota Harbin dan memiliki cabang di Manchuria. Organisasi ini merupakan laboratorium besar, terdiri dari 150 gedung dan 5 perkemahan setelit dengan sekitar 3.000 ilmuwan yang bekerja di dalamnya.

Unit 731 merupakan unit tentara jepang yang ditempatkan di Cina dan berfokus untuk mengembangkan senjata biologis yang tentunya diharapkan dapat memberikan kemenangan Jepang dalam medan perang.  Selain para ilmuwan, di laboratorium tersebut juga memiliki banyak tahanan yang berasal dari Cina dan Rusia yang merupakan musuh jepang saat itu. Eksperimen senjata biologis dilakukan pada tahanan tersebut.

Kesan disturbing dalam film ini sangat banyak, tentu saja kita berbicara mengenai kekerasan dan gore dalam film ini. Saat awal film berlangsung terlihat seperti film perang biasa, namun beberapa menit setelahnya ada adegan di mana bayi yang baru berumur beberapa bulan di kubur hidup-hidup di tumpukan salju. Tentu saja adegan mengganggu itu dilakukan oleh ilmuwan Unit 731. Adapun adegan mengganggu lainnya saat kedua tangan seorang wanita dimasukan ke dalam air panas, dan salah satu ilmuwan tersebut menarik kulit tangan wanita itu dan kita dapat melihat daging yang seperti dicincang hingga tersisa tulang saja.

        Dilansir dari Unit731.org "According to reports never officially admitted by the Japanese authorities, the unit used thousand of Chinese and other Asian civilians and wartime prisoners as human guinea pigs to breed and develop killer diseases".

       Berdasarkan laporan tidak resmi dari pihak berwenang jepang, unit ini menggunakan ribuan orang dari Cina dan warga sipil sebagai tawanan pada masa perang sebagai percobaan untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah penyakit mematikan.

       Selama 40 tahun, aktivitas mengerikan oleh Unit 731 mengingatkan kita dari salah satu rahasia terkeji selama Perang Dunia II. Hingga pada tahun 1984 Jepang mengakuinya, yang dulunya sempat mereka sangkal. Eksperimen keji terhadap manusia diadakan oleh unit ini untuk menciptakan sebuah kuman mematikan, sudah bisa menebak kepada siapa kuman itu diuji? Tentu saja pada tawanan langsung.


victim

Pembedahan Hidup-Hidup
Kesaksian dari salah satu asisten tim medis memberikan bocoran tentang eksperimen yang dilakukan, asisten tim medis ini tidak menyebutkan namanya, dia hanya meggambarkan peristiwa keji itu pada tahun 1995 wawancara New York Times saat mereka (ilmuwan) melakukan pembedahan hidup-hidup kepada tahanan.

“I fellow knew that it was over for him, and so he didn’t struggle when they led him into the room and tied him down. But when I picked up the scalpel, that’s when he began screaming. I cut him open from the chest to the stomach, and he screamed terribly, and his face was all twisted in agony. He made this unimaginable sound, he was screaming so horribly. But then finally he stopped. This was all in a day’s work for the surgeons, but it really left an impression on me because it was my first time.”
Aku tahu itu adalah akhir dari lelaki itu, dan dia tidak melawan ketika mereka menuju ke kamar dan mengikat dia kemudian dibaringkan. Tapi ketika aku mengambil pisau bedah, mulailah dia berteriak.. aku memotong saluran tenggorokan yang menghubungkan dada ke perutnya, and teriakannya menjadi sangat buruk, and wajahnya seakan menggambarkan kesakitan. Dia membuat suara yang tak terbayangkan, suara teriakannya sangat mengerikan. Tapi, beberapa saat kemudian akhirnya berhenti. Sepanjang hari bekerja untuk membedah, tapi aku meninggalkan itu dan membawa dampak buruk bagiku karena itu yang pertama bagiku (membedah hidup-hidup)
Tetapi, unit 731 bukan hanya dikenal dengan nama buruk karena melakukan pembedahan hidup-hidup. Beberapa tawanan dikirim ke unit ini berasal dari luar yang kemudian diikat dan di pancung. Selanjutnya para tim medis akan melakukan tes senjata biologi kuat mereka dan penciptakan wabah/penyakit.

Pada akhirnya 3.000 orang, bukan hanya dari Cina tetapi juga Rusia, Mongolia, dan Korea, mati karena eksperimen dari Unit 731 yang berlangsung sejak 1939-1945. Tidak ada tawanan yang berhasil keluar hidup-hidup.

Kumpulan Mayat

Selama perang terjadi, tentara kerajaan jepang menggunakan senjata biologi berkembang dan menghasilkan oleh Unit 731. Namun, diperkirakan Unit ini tidak hanya membunuh 3.000 orang melainkan sebanyak kurang lebih 300.000 orang.          

Pada 1984, seorang lulusan Keio Medical University in Tokyo menemukan rekaman dari eksperimen manusia di sebuah toko buku. Pada suatu halaman digambarkan efek dosis besar dari vaksin tetanus (kerusakan sistem saraf oleh bakteri). Di situ ada meja yang menggambarkan lama waktu yang dibutuhkan sampai tawanan itu mati dan juga terekam bagaimana tubuh mereka mengalami kejang yang hebat sampai akhirnya mati.                    



Wednesday, February 26, 2020

Review Film: Interstellar (2014)





Gargantua (Lubang Hitam) 


Interstellar yag berarti antar bintang adalah film fiksi ilmiah petualangan tahun 2014 yang disutradarai oleh Christopher Nolan dan diproduseri oleh Emma Thomas. Yeah, fyi interstellar adalah batas pengetahuan manusia tentang astronomi, kalian tahu kan kita hidup di galaksi bernama Bima Sakti? Nah selain itu ada ribuan galaksi yang berbeda-beda di luar sana.


Di masa depan saat bumi dilanda krisis, badai terjadi, panen yang gagal, badai debu yang menerjang daratan.  Apa yang bisa diharapkan?


Cooper, seorang mantan pilot uji coba NASA dimintai agar ikut bekerja sama dengan Profesor Brand dalam misi menyelamatkan bumi. Profesor Brand memintanya untuk mencari planet baru yang memiliki potensi untuk hidup di sana. Bersama Amelia Brand dan beberapa rekan kerja, akhirnya merek berangkat meninggalkan bumi dan mencari panet baru di Galaksi Bima Sakti.


Keputusan cooper yang memilih bergabung membuat anaknya Murph kecewa, dan berakhir dengan perpisahaan yang tidak baik. Cooper, putri profesor Brand, Amelia (Anne Hathaway), fisikawan Rommily (David Gyasi), geografer Doyle (Wes Bentley) beserta satu robot serbaguna bernama TARS (Bill Irwin) berangkat menuju Saturnus selama dua tahun sebelum terbang ke galaksi baru. Ketika melintasi lubang cacing, Amelia bertemu makhluk luar dimensi yang ia yakini menaruh lubang cacing untuk menyelamatkan umat manusia.


Melewati lubang cacing dan berada di dimensi lain tentunya menghadapi rentang waktu yang berbeda dengan bumi, mereka menemukan planet yang berpotensi untuk bisa di huni. Namun, mereka menemukan bahwa planet tersebut tidak layak huni karena ada banyak gelombang pasang raksasa yang terus-menerus menerjang permukaan. Saat mereka kembali ke Edurance mereka telah melewati waktu selama 23 tahun.


Murph telat bergabung di NASA dan terus berusaha untuk menyelesaikan masalah fisika yang selama ini membuat Prof Brand bingung. Masalahnya adalah bagamana manusia bisa dapat keluar dari tarikan gravitasi yang ada di bumi secara menyeluruh. Di usia yang semakin tua, Prof Brand merasa sudah tidak memiliki kemampuan lagi dan tidak ada harapan untuk membawa Cooper dan Endurance pulang. Murph diberi tahu bahwa sebenarnya dari awal Prof Brand sudah mengetahui tidak ada jalan keluar dalam persoalan yang dihadapi manusia pada saat ini.


Murph mengirim pesan yang di terima Endurance bahwa tidak ada jalan keluar, Cooper menyadari masih ada harapan untuk menyelamatkan umat manusia, melewati Gargantua dan mengirim TARS ke dalamnya untuk mengumpulkan data singularitas di balik lubang hitam  kemudian melempar pesawatnya dengan bantuan gravitasi ke arah planet Edmunds. Cooper berbohong kepada Amelia dan mengirim pesawatnya sendiri ke Gargantua sehingga Amelia dapat keluar dari tarikan gravitasi. Cooper melontarkan dirinya sebelum pesawatnya hancur, lalu terjebak di ruang luar dimensi tempat waktu tidak bersifat linier dan diwakili oleh kamar tidur Murph. Ia sekarang mampu menyaksikan setiap detik hidup Murph secara bersamaan, lalu menyadari bahwa dirinya adalah hantu Murph dan dapat memancarkan data yang dikumpulkan TARS melalui batasan dimensi agar Murph bisa menyelesaikan persamaan Profesor Brand.


Misi Cooper akhirnya selesai. Makhluk luar dimensi, manusia yang telah berevolusi dan melintasi alam semesta fisik, menutup ruang tesseract tersebut dan melepaskan Cooper kembali ke tata surya melalui lubang cacing di dekat Saturnus. Ia pun ditemukan oleh sebuah wahana NASA. Ia bangun di wahana NASA yang berperan sebagai pemandu wahana pengangkut manusia lainnya menuju lubang cacing. Cooper akhirnya bertemu kembali dengan Murph yang saat ini merupakan wanita lanjut usia, karena rentang waktu setelah melewati lubang cacing sangat panjang. Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan untuk terakhir kalinya, ia mencuri salah satu kapal NASA dan masuk ke lubang cacing untuk mencari Amelia yang telah menemukan sisa-sisa ekspedisi Edmunds sekaligus planet yang dapat menopang kehidupan.




Sunday, February 2, 2020

Review Film: Perfect Blue (1997). Film 'Gila' Dalam Sejarah Anime



Review Film: Perfect Blue
Satoshi Kon menggarap film anime yang diberi judul Perfect Blue, tema dari film ini Psikologis Thriller. Satoshi sendiri dikenal sebagai sutradara yang sering membuat cerita yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Film ini juga sebagai film pertama yang digarap oleh Satoshi, Perfect Blue awalnya merupakan karya yang diadaptasi dari novel karya Yoshikazu Takeuchi (1991).
Film ini menceritakan tentang kehidupan seorang idol bernama Mima Kirigoe, dia tergabung dalam sebuah grup idola bernama CHAM! Walaupun telah debut dan memiliki beberapa lagu, grup idola ini tak kunjung menemui kesuksesan. Pihak agensi akhirnya memutuskan mengeluarkan Mima dan menjadikannya sebagai seorang aktris, saat itu aktris dinilai lebih menjanjikan untuk menaikan saham agensi.

Saat menonton film ini, saya tercengang dan sedikit bingung, kita akan kesulitan membedakan antara realita, imajinasi, dan ekspetasi yang seringkali membaur dan tergabung satu sama lain. Namun, semakin film ini berjalan kita akan semakin intens menyerap setiap twist-twist yang tersaji secara sempurna. Ada kecurigaan terhadap beberapa tokoh yang kemudian kecurigaan itu hilang, dan beberapa adegan yang diambil lewat perspektif yang memukau.
Mari kita lanjut, setelah Mima keluar dari grup idola tersebut akhirnya dia bermain dalam sebuah film, namun dialognya masih sedikit karena Mima sendiri masih berstatus aktris yang baru. Menjadi aktris tidaklah mudah untuknya, banyak fans setianya yang menginginkan dia tetap menyanyi dan menari untuk mereka.
Di tahun tersebut ketika dunia internet baru mulai dikenal di Jepang, seorang fans membuat situs khusus untuk Mima yang isinya menceritakan kehidupan sehari-hari Mima, anehnya saat Mima membaca situs tersebut setiap cerita yang tertulis benar-benar detail. Dimulai saat Mima yang selalu menggunakan kaki kanan terlebih dahulu sebelum turun dari kereta, karena Mima takut terkena sial jika menggunakan kaki kiri dan beberapa hal yang tertulis secara detail.


Setelah beberapa waktu, beberapa film mulai dibintanginya, film yang sangat berani karena bertema prostitusi. Manager dari Mima terlihat tidak setuju karena image Mima adalah seorang gadis yang manis, namun dengan berani Mima akhirnya menyetujui film tersebut. Tubuh Mima sangat terekspose dalam film tersebut, tak berenti sang stalker mulai menjadi semakin agresif.
Sutradara dan penulis naskah dari film yang dibintangi Mima meninggal dengan kondisi yang mengenaskan. Kondisi psikologis Mima semakin memperihatinkan, dalam pembunuhan tersebut, seolah-olah Mima yang melakukannya, karena dalam situs internet yang menceritakan kehidupan Mima tertulis dengan jelas seolah-olah yang menulis pembunuhan tersebut adalah dia sendiri serta kantong penuh darah muncul dilemarinya.


Boleh saya katakan bahwa film ini adalah salah satu film paling ‘Gila’ dalam sejarah anime

“Siapakah engkau?” adalah kalimat yang terus ditanyakan kepada dirinya sendiri. Mima ingin terlihat sebagaimana dirinya yang sekarang, seorang aktris. Namun, Mima sulit mengubah persepsi dari orang disekitarnya yang melihat Mima sebagai seorang idol belaka. Menurut saya, Mima memiliki Gangguan Psikotik (Psychotic Disorder), Mima mulai berhalusinasi, mendengar dan merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Jika kalian telah menonton film ini, ingatkah kalian sesosok pria aneh yang terus mengikuti Mima? Pria aneh tersebut semakin mengikuti Mima kemanapun dia pergi dengan serangkaian peristiwa aneh. Munculnya sesosok gadis mirip Mima yang memakai pakaian Mima saat menjadi idol dulu turut membuat jalan cerita semakin rumit. Sebagai penonton, sangat sulit membedakan mana dunia khayalan dengan dunia nyata Mima

Mima dan bayangan mirip dirinya 

Obsesi berlebihan dari fans membuat film ini ditujukan untuk mereka yang terobsesi akan suatu hal, sekaligus menceritakan bagaimana wanita mengekspose tubuh mereka demi menaikan popularitas. Semua terpampang nyata seolah tidak ada yang ditutupi.
Diakhir film, Mima terlihat bahagia dan mengatakan "Tapi, berkat dia, aku adalah aku yang sekarang” sembari melihat cermin dan melanjutkan “Tidak, aku yang asli”. Mima mengatakan seolah-olah dia adalah pemenang dari semua kejadian yang menimpanya. Dia berhasil menjadi dirinya sendiri, seorang aktris.






Wednesday, January 15, 2020

Review Film: Lucy (2014). Manusia hanya menggunakan 10% otaknya?


       

Bagi kalian yang sudah nonton film ini, apa kalian percaya dengan hipotesis dari Profesor Samuel Norman (Morgan Freeman) tentang manusia hanya memakai 10% otaknya. Jika benar, saya dan kalian termasuk orang yang sempat percaya hahaha. Film Fiksi Ilmiah ini cukup menjadi sorotan penggemar film Sci-Fi karena hipotesis dari Profesor Samuel ini.
Film dari sutradarai oleh Luc Besson ini terbilang sukses, Lucy menjadi film Perancis yang paling sukses diluar Perancis selama 20 tahun terakhir dan menjadi film pertama yang sebagian difilmkan menggunakan kamera IMAX.
Lucy (Scarlett Johansson) menjadi super pintar, bias belajar satu hal yang baru dia temui dengan sangat cepat dan mudah. Seperti dia bisa belajar dengan cepat bahasa baru, bela diri, sampai punya kekuatan telekinesis.
Keseluruhan dari plot film ini berdasarkan bahwa kita sepanjang sejarah umat manusia hanya memakai 10% dari total kapasitas otak kita. Mungkin sebagian dari kita terbuai dan berangan-angan kemampuan apa saja yang bisa kalian dapatkan jika berhasil memakai 100% kapasitas otak. So yeah, god: that’s totally nonsense
Sampai saat ini gak ada penelitian yang menunjukan hal itu, mungkin sutradara film ini terinspirasi dari misinteprestasi temuan sains yang kurang lengkap kurang lebih serratus tahun yang lalu. Jadi pada awal abad 20, para peneliti pada saat itu sedang mempelajari otak manusia penderita sakit stroke dan bintang, mereka menemukan bahwa bagian otak tertentu memiliki aktivasi yang berbeda. Misalnya, saat mereka menyetrum bagian otak kanan maka tangan kanan akan merespon dan begitupun sebaliknya. Mereka mencoba metode ini untuk memetakan fungsi-fungsi dari setiap bagian otak.
Hasilnya? Dari metode tersebut ternyata hanya 10% bagian otak yang dapat merespon ketika distimulasi aliran listrik, dan tersisa 90% bagian otak yang tidak merespon, artinya tidak ada anggota tubuh yang merespon sedikitpun. Pada saat itu para saintis menyebut 90% area tersebut dengan nama Silent Cortex karena fungsinya belum diketahui sampai dengan Sekaran tetapi bukan bekan berarti tidak berfungsi.
Zaman sekarang, untuk memahami fungsi otak sendiri sudah ada alatnya, seperti MRI, CT Scan, PET Scan dan EEG. Hasilnya sudah bisa diolah secara kuantitatif maupun grafis dengan sangat presisi di komputer, dengan alat-alat tersebut kita bisa mengobservasi aktivitas virtual otak.
Dr. Barry Gordon, seorang professor neurologi di School of medicine adalah salah satu ilmuan yang tidak setuju akan hal ini, dia menyatakan bahwa manusia benar-benar menggunakan setiap bagian otaknya secara aktif setiap waktu. Pada beberapa kesempatan, bagian otak tertentu tidak akan bekerja untuk menggerakan tubuh seperti metode yang dilakukan para saintis dulu. 90% bagian otak yang diberi nama Silent Cortex memiliki kemampuan kognitif (berpikir, menghitung, berbahasa).
Dalam film ini juga sedikit menyentil tentang asal-usul manusia adalah kera. Hmm.. ini teori Darwin. But, guys this just entertaint. Kera dalam film ini adalah Australopithecus afarensis, yang mewakili penghubung yang hilang antara kera dan manusia. Yash, teori Darwin.
Selaku sutradara, Luc Besson sebenarnya tahu mengenai asumsi ilmiah ini salah, seperti manusia menggunakan 10% kapasitas otaknya, Luc menyatakan bahwa asumsi semacam itu menjadi awalan yang baik untuk sebuah film fiksi ilmiah.



Monday, January 6, 2020

Review Film: Ready or Not. Tradisi keluarga Gila




Film ini adalah film horror misteri thriller Amerika Serikat yang disutradarai oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett. Film ini tergolong ringan untuk film bertema horror misteri thriller. Sebuah keluarga bermarga Le Domas memiliki tradisi aneh yang dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi keluarga mereka utnuk mempertahankan kekayaan yang mereka miliki. Sampai suatu ketika tradisi ini dilakukan kembali saat pernikahan anggota keluarga mereka.
Grace (Samara Weaving) adalah seorang gadis yang memiliki kekasih bernama Alex Le Domas (Mark O’Brien). Alex diketahui berasal dari keluarga berada, mereka akan melakukan pernikahan untuk melanggengkan hubungan yang telah lama mereka jalani. Grace merasa bahagia bisa menikah di rumah keluarga besar Alex, pernikahan itu dihadiri oleh seluruh keluarga Alex dan kerabat dekat mereka.
Malam tradisi dimulai oleh keluarga Le Domas. Tradisi ini adalah permainan kecil namun memiliki arti yang besar bagi keluarga ini. Saat mencabut salah satu kartu, Grace mendapatkan kartu “Hide and Seek” atau petak umpet. Namun, ini bukan petak umpet biasa, justru ini membuat Alex dan ibunya Becky Le Domas khawatir.
Grace akan menghadapi peristiwa berdarah dalam hidupnya, dia harus bersembunyi dan jangan sampai ketahuan oleh siapa pun, masing-masing keluarga memegang senjata yang siap kapan saja membunuh Grace. Tentu saja Grace yang dihadapkan situasi seperti ini langsung shock berat dengan malam pertama yang tidak seindah yang diharapkan, justru hal gila inilah yang terjadi.
Samara Weaving menurutku berhasil mentransformasi dirinya menjadi wanita yang nakal dalam film ini, yang kemudian berpikir logis, shock dan kemudian menunjukan kegilaannya sendiri pada keluarga Le Domas.
Menurutku, film ini tampil baik menyajikan sekaligus menggiring penonton pada kesintingan yang mungkin saja tersimpan jauh di salah satu isi otak dan hati kita semua, tentang bagaimana keluarga yang kaya raya mendapatkan semua kekayaan itu. Well, itu hanya konspirasiku saja haha.


5 Fakta Kamen Rider Black. Si Ksatria Baja Hitam

Dunia perfilman selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta Box Office atau bioskop, sampai saat ini sudah banyak film yang mengudara....